Matcha semakin populer sebagai minuman sehat dan bahan makanan modern. Namun, tidak sedikit orang yang pertama kali melihat atau mencicipinya justru mengira matcha seperti rumput. Warna hijau pekat, aroma khas, serta rasa yang berbeda dari teh biasa membuat anggapan ini cukup sering muncul. Lalu, mengapa matcha kerap disamakan dengan rumput? Artikel ini akan membahas alasan di balik persepsi tersebut secara ilmiah dan budaya.
Baca Juga:
- Jagung Popcorn Berbeda dari Jagung Biasa?
- Kenapa Alpukat Matang Lebih Cepat Jika Disimpan Dekat Pisang?
- Paranet Bukan Sekadar Jaring Ini Rahasia Tanaman Tetap Adem
Warna Hijau Matcha yang Mirip Rumput
Salah satu alasan utama orang mengira matcha seperti rumput adalah warnanya. Matcha memiliki warna hijau cerah hingga hijau tua yang sangat pekat. Warna ini berasal dari kandungan klorofil yang tinggi pada daun teh matcha. Klorofil juga merupakan pigmen utama pada rumput dan tanaman hijau lainnya. Karena kesamaan pigmen inilah, secara visual matcha sering diasosiasikan dengan rumput segar.
Proses penanaman matcha yang dilakukan dengan peneduhan sebelum panen membuat kadar klorofil meningkat. Semakin tinggi kualitas matcha, semakin hijau warnanya. Inilah sebabnya matcha premium justru memiliki warna yang paling “rumput” di mata orang awam.
Aroma Alami yang Mengingatkan pada Tanaman Segar
Selain warna, aroma matcha juga berperan besar dalam persepsi ini. Matcha memiliki aroma segar, sedikit pahit, dan vegetal. Aroma ini sering digambarkan seperti daun hijau, rerumputan, atau tanaman segar. Senyawa alami seperti amino acid dan polifenol dalam matcha menghasilkan aroma yang khas dan berbeda dari teh hitam atau teh oolong.
Bagi orang yang belum terbiasa, aroma vegetal ini bisa langsung diasosiasikan dengan bau rumput yang baru dipotong. Padahal, aroma tersebut justru menjadi ciri khas matcha berkualitas tinggi.
Rasa Matcha yang “Hijau” dan Tidak Manis
Rasa matcha juga menjadi faktor penting. Tidak seperti minuman manis atau teh biasa, matcha memiliki rasa umami yang kuat, sedikit pahit, dan earthy. Rasa inilah yang sering membuat orang berkata bahwa matcha terasa seperti rumput. Istilah “rasa hijau” atau grassy taste memang sering digunakan dalam dunia teh untuk menggambarkan karakter alami daun teh.
Namun, rasa ini bukanlah cacat. Justru rasa umami menandakan kandungan L-theanine yang tinggi, senyawa yang memberikan efek menenangkan dan menjadi salah satu manfaat utama matcha.
Kurangnya Edukasi Tentang Matcha
Banyak orang mengira matcha seperti rumput karena kurangnya pemahaman tentang asal-usul dan proses pembuatannya. Matcha berasal dari daun teh hijau (Camellia sinensis) yang digiling menjadi bubuk halus. Karena seluruh daun dikonsumsi, rasa dan aromanya menjadi lebih kuat dibandingkan teh seduh biasa.
Tanpa pengetahuan ini, wajar jika kesan pertama matcha dianggap aneh atau “seperti rumput”. Apalagi jika matcha yang dikonsumsi berkualitas rendah atau diseduh dengan cara yang kurang tepat.
Budaya dan Persepsi Lidah
Persepsi rasa sangat dipengaruhi budaya. Lidah yang terbiasa dengan rasa manis, gurih, atau kuat seperti kopi sering kali merasa matcha terlalu “alami”. Di Jepang, rasa vegetal dan umami justru dianggap nikmat dan bernilai tinggi. Perbedaan kebiasaan inilah yang membuat matcha sering disalahpahami oleh orang awam.
Matcha Bukan Rumput, Tapi Teh Berkualitas Tinggi
Meskipun sering dianggap seperti rumput, matcha sejatinya adalah teh hijau berkualitas tinggi dengan manfaat kesehatan yang luar biasa. Kandungan antioksidan, klorofil, dan asam amino menjadikan matcha minuman yang menyehatkan tubuh dan pikiran.
Dengan memahami warna, aroma, dan rasa alaminya, anggapan bahwa matcha seperti rumput perlahan akan berubah menjadi apresiasi terhadap keunikannya. Matcha bukan sekadar tren, melainkan bagian dari budaya dan tradisi yang kaya makna.

.png)
Posting Komentar