Belakangan ini, dunia pertanian di Indonesia diramaikan oleh kemunculan salah satu komoditas tanaman umbi yang tengah naik daun, yaitu ubi yakon. Tanaman yang memiliki nama ilmiah Smallanthus sonchifolius ini berasal dari kawasan Pegunungan Andes, Amerika Selatan. Di masyarakat luas, ubi yakon lebih akrab disapa dengan sebutan "ubi insulin". Hal tersebut tidak terlepas dari khasiatnya yang dipercaya mampu membantu menurunkan kadar gula darah, sehingga sangat diburu oleh para penderita diabetes.
Selain manfaat kesehatannya yang tinggi, ubi yakon juga digemari karena karakteristik rasanya yang unik. Ketika dikupas, daging umbinya tampak bening, memiliki tekstur renyah, berair, dan menawarkan rasa manis yang menyegarkan layaknya buah pir. Tingginya minat pasar yang belum diimbangi oleh banyaknya jumlah produsen menjadikan budidaya ubi yakon sebagai sebuah peluang usaha pertanian yang sangat menjanjikan. Bagi Anda yang tertarik untuk memulainya, berikut adalah langkah-langkah teoretis dan praktis dalam membudidayakan ubi yakon.
Baca Juga:
- Misteri Ginkgo Biloba, Fosil Hidup dari Zaman Dinosaurus yang Menjadi Ramuan Keabadian
- Truffle Putih Alba, Jamur Paling Mahal di Dunia yang Menjadi Buruan para Sultan
- Rahasia Semangka Densuke, Si Hitam Manis Legendaris Berharga Puluhan Juta dari Pulau Utara
1. Standar Syarat Tumbuh Tanaman
Sebagai tanaman yang habitat aslinya berada di daerah pegunungan, ubi yakon memerlukan kondisi lingkungan yang spesifik untuk dapat tumbuh secara optimal. Tanaman ini tumbuh dengan baik pada dataran tinggi dengan ketinggian berkisar antara 1.000 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Suhu udara ideal yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhannya berkisar antara 18°C hingga 25°C. Selain faktor iklim, jenis tanah juga memegang peranan krusial. Ubi yakon memerlukan media tanam berupa tanah yang gembur, memiliki kandungan unsur hara atau bahan organik yang tinggi, serta memiliki sistem drainase (penyerapan air) yang baik agar bagian umbi tidak mengalami pembusukan akibat genangan air.
2. Teknik Pemilihan dan Penyemaian Bibit
Berbeda dengan komoditas ubi jalar pada umumnya yang dapat diperbanyak melalui teknik stek batang, ubi yakon dikembangbiakkan menggunakan bagian crown atau mahkota umbi. Bagian ini merupakan titik tumbuh yang terletak tepat di atas umbi utama.
- crown dari tanaman induk yang telah berumur tua, terbukti produktif, serta terbebas dari serangan hama maupun penyakit.
- Potong bagian Pilihlah mahkota tersebut menjadi beberapa bagian kecil, dengan memastikan setiap potongan memiliki minimal satu mata tunas.
- Semai potongan crown tersebut di dalam polibek yang telah diisi campuran tanah dan pupuk kompos. Proses penyemaian dilakukan hingga bibit mengeluarkan lembar daun muda dan siap dipindahkan ke lahan terbuka.
3. Pengolahan Lahan Tanam
Sembari menunggu bibit di area penyemaian siap dipindahkan, pengolahan lahan utama harus segera dilakukan. Tanah diolah dengan cara dicangkul atau dibajak agar menjadi gembur. Selanjutnya, buatlah bedengan dengan spesifikasi tinggi sekitar 30–40 cm dan lebar 80–100 cm.
Sebelum proses penanaman dilakukan, campurkan pupuk dasar berupa pupuk kandang yang telah matang atau kompos pada bedengan guna meningkatkan kesuburan tanah. Buatlah lubang tanam dengan jarak antar-tanaman yang ideal, yaitu sekitar 50 x 60 cm. Pindahkan bibit dari polibek secara hati-hati agar struktur akarnya tidak rusak, lalu uruk kembali menggunakan tanah secara perlahan.
4. Proses Perawatan dan Pemeliharaan
Meskipun tanaman yakon tergolong sebagai tanaman yang memiliki daya tahan baik, perawatan yang intensif tetap diperlukan guna menghasilkan panen yang berkualitas:
- Pengairan: Lakukan penyiraman secara berkala pada pagi atau sore hari, khususnya pada awal fase pertumbuhan vegetatif. Pada musim kemarau, pastikan kelembapan tanah tetap terjaga tanpa membuat pasokan air menjadi berlebihan.
- Penyiangan: Bersihkan tanaman pengganggu (gulma) dan rumput liar di sekitar bedengan secara rutin agar tidak terjadi perebutan nutrisi tanah.
- Pemupukan Berkala: Berikan pupuk organik tambahan atau pupuk kompos setiap dua bulan sekali untuk menstimulasi perkembangan volume umbi.
5. Proses Pemanenan
Ubi yakon umumnya dapat dipanen ketika tanaman telah memasuki usia 7 hingga 9 bulan setelah masa tanam. Indikator fisik yang menunjukkan bahwa ubi yakon telah siap dipanen adalah perubahan warna daun yang mulai menguning serta bagian batang yang tampak mengering.
Proses pembongkaran bedengan harus dilakukan secara saksama menggunakan sekop atau garpu tanah. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya cacat fisik atau patah pada umbi mengingat kulit ubi yakon relatif tipis. Setelah diangkat dari tanah, bersihkan umbi dari kotoran yang menempel dan keringkan sejenak di tempat yang teduh sebelum didistribusikan ke pasar.


Posting Komentar